Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

3 Wajah


Orang Jepang berkata bahwa setiap orang memiliki 3 wajah, yaitu:

1. Wajah yang ia perlihatkan pada dunia.
2. Wajah yang ia perlihatkan pada orang terdekat
3. Wajah yang tidak ia perlihatkan pada siapapun.

Kita tidak bisa menilai seseorang dari wajahnya. Kita tidak tahu apa yang sedang ia alami. Sejatinya kita tidak bisa menilai perasaan/keadaan seseorang hanya dengan melihat wajahnya sampai ia yang menceritakan sendiri kepada kita.

Aku belajar banyak dari dunia kerja, ketika kita lelah bekerja, wajah kita mungkin menyimpan rasa letih, tetapi untuk bekerja saja kita harus memiliki wajah yang selalu ceria kepada setiap pelanggan, kepada rekan kerja bahkan kepada bos, bukan hanya itu, ketika kita pulang kerumah ketemu dengan keluarga, Istri dan anak, lagi lagi kita harus bisa mengatur wajah kita untuk selalu tersenyum. Tentu kita tidak ingin memberikan energi negatif kepada orang tersayang.

Mungkin kita harus jago akting.
Dunia kerja memang penuh dengan perjuangan. Jika engkau bertanya pada setiap orang, mungkin engkau akan mendapatkan banyak kisah dan tentunya setiap orang memiliki kisahnya masing-masing.

Aku sangat salut kepada orang-orang yang selalu ceria ditempat mereka kerja, menikmati pekerjaannya, murah senyum kepada pelanggan, rekan kerja maupun bos. Aku sangat suka memperhatikan dengan seksama, di suatu restoran jepang di kotaku, aku menemukan fenomena yang langkah buatku. Setelah melayani pelanggan ada seorang pelayanan dan kecapekan dan jongkok bersembunyi di balik meja, aku tersentak, Aku perhatikan wajahnya ada garis yang menyatakan kelelahan, setelah itu ia harus bangkit lagi dengan muka yang harus ditata tersenyum kembali. Ia kemudian berdiri kembali dan tersenyum kepada setiap pelanggan yang datang. 

Aku kembali ke beberapa tahun silam ketika ayahku balik dari bekerja, aku selalu ingin digendong ayah diatas pundaknya, aku masih ingat ekspresi itu, ekspresi yang sangat membahagiakan ingatku. Senyumnya, ramahnya dan cara dia berbicara kepadaku adikku dan ibuku juga sangat ramah. Aku tahu pekerjaan ayah sangat melelahkan, tetapi ayah sangat mampu mengolah kelelahannya.

Poin yang ingin aku sampaikan adalah bahwa setiap pekerjaan itu sangat melelahkan, namanya juga bekerja, kita harus bisa mengendalikan amarah kita. Kita tidak boleh membawa beban kerja kembali ke rumah maupun kantor, kita harus bisa belajar olah wajah, harus bisa mengendalikan amarah, harus bisa selalu tersenyum. Percayalah setiap apa yang kita beri akan kembali kepada kita, senyum adalah sedekah yang sangat mudah dan sederhana bukan.

Belajar dari Supir Taksi di Dubai


Sebuah cerita dari sebuah akun facebook

Saya menunggu dalam antrean untuk naik taksi di bandara Dubai. Ketika taksi berhenti, hal pertama yang saya perhatikan adalah bahwa taksi itu begitu bersih dan mengkilap. Sang supir berpakaian kemeja putih, dasi hitam, dan celana panjang hitam melompat keluar dan mengitari mobil untuk membuka pintu penumpang bagi saya. Dia menyerahkan kartu laminasi dan berkata: "Saya Abdul. Sementara aku manaruh tas Anda di bagasi saya ingin Anda untuk membaca pernyataan misi saya”.

Saya terkejut saat membaca kartu tersebut. Dikatakan: Pernyataan Misi:
Untuk mengantarkan pelanggan ke tujuan mereka dengan tercepat, teraman dan termurah dan menciptakan lingkungan yang ramah.

Saat saya duduk di belakang, Abdul mengatakan, “Apakah Anda ingin secangkir kopi? Saya memiliki termos dan satu kopi tanpa kafein".

Aku bergurau, "Tidak, saya lebih memilih minuman ringan”.

Abdul tersenyum dan berkata, “Tidak ada masalah. Saya memiliki pendingin yang berisi reguler dan Diet Coke, lassi, air dan jus jeruk".

Hampir gugup, saya  berkata, "Saya akan mengambil Lassi”.

Sambil menyodorkan minuman saya, Abdul mengatakan, “Jika Anda ingin sesuatu untuk dibaca, saya memiliki The NST, Star dan Sun Today”.

Kemudian Abdul menyerahkan kartu lain; jika saya ingin mendengarkan radio dan musik.

Sepertinya belum cukup, Abdul berkata kepada saya bahwa mobil ini memiliki pendingin udara dan bertanya apakah suhu AC nya nyaman bagi saya.

Kemudian ia menyarankan saya rute terbaik ke tujuan saya untuk hari itu. Dia juga memberitahu saya bahwa ia akan senang untuk ngobrol dan memberitahu saya tentang beberapa pemandangan atau tempat-tempat menarik lainnya

Saya berkata: “Saya kagum” dan bertanya “apakah kau selalu melayani pelanggan seperti ini?”.

Abdul tersenyum ke kaca spion. "Tidak, tidak selalu. Bahkan, sejujurnya ini saya lakukan dalam dua tahun terakhir. Selama lima tahun pertama saya bekerja sebagai supir, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk mengeluh seperti semua sopir taksi lainnya. Lalu suatu hari saya mendengar sebuah cerita tentang KEKUATAN PILIHAN".

Kekuatan pilihan bahwa Anda bisa memilih menjadi bebek atau elang.
‘Jika Anda bangun di pagi hari mengharapkan untuk memiliki hari yang buruk, Anda akan mengecewakan diri sendiri. Berhenti mengeluh!'

'Jangan jadi bebek. Jadilah elang. Bebek hanya mengeluh. Elang terbang tinggi di atas kerumunan.'

"Itu memukul saya dan membuka pikiran saya" kata Abdul.

"Ini adalah tentang aku. Selama ini saya selalu mengeluh, jadi saya memutuskan untuk mengubah sikap saya dan menjadi elang.
Aku melihat sekeliling, banyak  Taksi yang kotor, driver yang tidak ramah, dan pelanggan yang  tidak bahagia.
Saya memutuskan untuk membuat beberapa perubahan, perlahan-lahan, bertahap namun pasti. Ketika pelanggan saya merespon dengan baik, saya mengulanginya lagi.

'Tahun pertama saya sebagai elang, saya mendapatkan penghasilan dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tahun ini penghasilan saya naik empat kali lipat. Pelanggan saya selalu menelepon saya untuk menjemputnya kembali".

Abdul membuat pilihan yang berbeda. Dia memutuskan untuk berhenti menjadi bebek dan mulai terbang seperti elang.

Mulailah menjadi elang hari ini, satu langkah kecil setiap hari, setiap minggu dan selanjutnya, dan selanjutnya.

Perbaikilah diri sendiri dan kemampuan Anda dalam cara yang berbeda.
Jadilah elang, bukan Bebek.

"Anda tidak mati jika Anda terjatuh dalam air, Anda mati hanya jika Anda tidak berenang”.

Kesimpulannya, berhentilah mengeluh, karena dengan mengeluh saja kita tidak bisa merubah apa-apa. mulailah bersyukur dan melakukan kegiatan-kegiatan positif agar bisa menjadi pemenang.

AKU “Pencuri Pengalaman”



Senang banget rasanya kalo punya percakapan yang isinya gak melulu tentang gosip, keluhan, atau topik yang gak jelas. Percakapan yang diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti percakapan orang tua kepada anaknya. Percakapan yang didalamnya terkandung petuah-petitih, kata kata bijak, motivasi atau pengalaman yang sudah mereka alami.

Dari ibuku, terkuak kisah perjuangan kakek sang penebang kayu dengan diameter 4 bentangan tangan orang dewasa. Aku diantara rasa percaya dan tidak percaya mendengarnya. Kakek hanyalah seorang petani biasa, transmigran yang membawa keluarganya ke Pulau Sumatera. Mengadu nasib dengan bercocok tanam di tepian hutan belantara. Untuk membangun rumah sederhana dia adalah sosok yang tak suka berkeluh kesah.

Tidak mudah menaklukkan sang raksasa, apalagi dengan kapak yang seadanya. Bersama teman teman, ia menghabiskan lebih dari satu minggu untuk menebangnya. Ia berkata kepada nenek dan ibuku “Ibu sama kakak awas ya, kayunya sudah mau tumbang”. Nenek bergegas memeluk ibuku, untuk memastikan anaknya tidak akan tertimpa oleh pohon raksasa. Mendengar ibu bercerita aku seolah-olah berada disana, membisu tapi memperhatikan dengan seksama.

Memperhatikan keseharian orang tua, duduk mendengarkan nasehatnya, seharusnya menjadi agenda rutin bagi yang muda. Ada banyak pengalaman yang ingin mereka bagi. Keseharian waktu muda, perjuangan hidup mereka serta mana yang benar dan mana yang salah. Tak ada yang salah kalau mereka menginginkan kita menjadi apa yang mereka mau. Mereka mempertimbangkan atas dasar pengalaman. Sedangkan yang muda lebih sering berbicara berdasarkan nafsu. Pada fase ini yang perlu kita lakukan adalah menurunkan sedikit ego kita, ambil nasehat itu, dan curi pengalaman darinya.

Ternyata ini bukan hanya sikap orang tua, melainkan sikap orang dewasa pada umumnya. “Janganlah bosan menjadi murid, karena kalau kau sudah siap, ada banyak guru yang akan membimbingmu”. Barang kali itulah kutipan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana anak muda seharusnya bersikap saat ini.
 
Oleh karena itu bertemanlah dengan orang yang lebih dewasa, silaturrahmi, ukhuwah, atau langsung meminta nasehat jauh lebih baik daripada kita harus melewati kehidupan yang kita tidak tahu akan kemungkinannya. Semoga dari semua pengetahuan yang kita dapatkan kita bisa menjadi sebaik-baiknya manusia.

- Suhendri

Apapun itu, selama kamu bersungguh-sungguh, kamu akan berhasil


Mimpi dan cita-cita adalah salah satu hal yang harus diperjuangkan dalam hidup. Bukan aku akan menjadi apa tapi aku mau jadi apa. semua adalah hasil dari usaha yang dilakukan setiap hari. Kita adalah apa yang kita usahakan di setiap hari kita. Oleh karena itu tak patut rasanya jika kita hanya berharap tanpa ada usaha. Yakinlah bahwa, aku yang hari ini tumbuh besar adalah karena mendapatkan makanan setiap hari. Sukses itu adalah akibat. Usaha adalah jalan untuk mencapainya.

Dari segala segi kehidupan, mimpi dan cita cita selalu berubah sesuai dengan pengetahuan yang kita dapatkan. Baik ilmu yang kita dapatkan baik juga cita-citanya. Oleh karena itu belajarlah dan jadilah terbuka terhadap segala sisi kehidupan yang datang kepada kita. Jadikan itu menjadi diri kita lebih bijaksana terhadap apa apa yang ada di dunia ini.

Kalo seseorang tinggal di dekat daerah tambang batubara, ia ingin menjadi seorang penambang batubara. Kalo seseorang dekat dengan polisi, ia juga ingin menjadi polisi. Kalo seseorang dekat dengan presiden, pasti ia juga ingin menjadi presiden. Oleh karena itu sangat disarankan untuk berteman dengan orang yang baik agar kita juga menjadi baik.

Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini, kalau kamu bilang “Oke”, pasti kamu akan mengusahakan yang terbaik untuk itu. Tetap semangat dan jangan pernah menyerah.

- Suhendri

Live your life, close from your gadget


It was long time I not wrote again. Too busy with my routine activity like work, sleep and go date with my friends. This is my time to write some stupid think again. Just wanna share anything happen in my mind. Like conversation good side and bad side in myself. Hope this can useful for me or anyone find this article.

TECHNOLOGY in 20th century increase significantly. In almost part of human life supporting with technology. One of example that I want to discuss is smartphone. I Think everyone in all of this world has at least one smartphone. Smartphone is help people to do their activity, like communication with friend, read update news, play game, shopping, and etc. we can do anything and get anything with one touch.

But, smartphone have disadvantages too. First sometime we spend our time with smartphone, and make complacent. It is natural, because, we don’t need to travel to store, to friend house, or to do any tired activity. But all of this is not real. The real life is there in your daily activity.

Come on, life your life and close from your gadget!.

The Scenery


Scenery. Who doesn’t like enjoying the beauty of this world? I believe that everyone like it so much. The sea, sky, land, city, culture, and of course people. I really loved to enjoying the beauty of everything existed in this world, especially the people. We lived in the same planet and yet every each of us is not similar. Either it’s race, country, religion, color, social status, lifestyle, culture, and etc., all of them made us different to one and another, and me personally, I see the beauty from these differences. I always loved to meet and get to know people that different with me from any aspect of differences. For me this kind of scenery is not just pleasured to see but in the same time, it taught you things that you never thought before, things that could be broaden your perspective in judging life.

From every types of people whom I have met in life, there is one type of people that always interest me to get to know more about them, about their life’s story, how they lived their life, they are type of people that always passionate to do the best of them in living this life. People who consistently doing things they loved positively and keep moving forward to be the best in what they loved. It very interesting for me to know about life’s story of people who have been struggled in life to be in the place where they are standing right now. Their stories and experiences, I learned many things from them that keep remind me to be brave in choosing my own life path and taking risks to realize it. They taught me how to manage my expectations in life and make sure that I took the best path to be in the place where I want in the future.

I really understand that it wouldn’t be that easy, but as an optimistic person, I always believe that whatever things come along in my way, as long as I put my mind to it consistently, I believe I can get through of them no matter how hard it is. Until today, I have been proved it and turns out I could finally realized my expectations. It’s like a dream come true, you know, it’s felt so damn good when you finally can managed your expectations after a long time process of trial-error experiences. Believe me, you don’t wanna regret things in your life, it feels so bad and it keep hunting you in every morning you woke up from your bed. My only suggestion is, go wake up right now! Work consistently for what you really want in life, and see the miracle happens. Trust me, it truly works.

Reference: The Scenery, Arif Hilmi.

Fair with 24 hours


Day after day is gone. 24 hours and 24 hours left like a wind. But, do you fair with your 24 hours? What you used it for?
Do you realise you are getting older?
What have you done?
Nothing?
What have you done?
...
I was looks and see, there are so much kind of people use they 24 hours. Some people use it for work, learn sleep, spend time with family, pray, play game, shopping, stalking, browsing, and others. What your activity most lead your time? Work? Sleep?, Learn?, Play Game?, or others?.

A few days ago, in a small conversation with my office colleague, she suggest me “dont feel comfortable with your job in here, you must also learn”. They suggest very good. Not just work, we must keep learn.
I get suggest from my friend too, who are you?
Work hard and collect money than go to doctor or, work with safety and dont have much money?
I said we have same answer brother.

This my clossing.

please use your 24 hours with “bijak”
Your god have hak (right),
Your body have hak,
Your wife and child have hak,
Your Mother, Father and family have hak,
Your friends have hak,

Fair with your 24 hours.

That’s all. Hope this brainstorming writing useful.

Lihatlah Sekitar



Lihatlah sekitar katanya, Tentang perjuangan orang-orang yang berjuang untuk memaknai hidup.

Orang Tua, Saudara, Keluarga, Sahabat, dan Tetangga.
Bahwa ada banyak pengalaman hidup yang ingin mereka ceritakan. bukan tentang menyombongkan diri, bukan juga tentang untuk meratapi.
mereka ingin berbicara dan didengar.
mereka juga ingin mendapatkan keteguhan hati.
Mendapatkan kisah salah arah karena frustasi.
Mendapatkan kisah kesabaran dan perjuangan setiap hari.
Takut akan ketermanfaatan diri, yang tiada bisa dibagi.
 
Dari segala profesi, segalanya akan mudah jika hanya mengejar materi.

Bekerja untuk mendapatkan ilmu, terdengar klise tapi sarat akan makna.
karena ketika berilmu, ilmu itu lah yang akan menjaga diri, sedangkan harta kita yang menjaga. karena ilmu-lah yang menjadikan kita dermawan, sedangkan harta akan menjadikan kita sombong dan lupa diri. Ilmu adalah aset yang paling berharga. ilmu-lah yang akan membahagiakanmu.

Lihatlah sekitar, karena ini bukan tentang diri sendiri!.

- Suhendri

Kamu Bisa Berprestasi dengan Memahami Diri Sendiri

Bahwa prestasi tak akan direngkuh hanya dengan merencanakan mimpi, tak akan terjamin hanya dengan keberuntungan. Bukankah prestasi hakiki adalah tentang perjuangan dan memperjuangkan; adalah tentang ikhtiar, tawakkal dan berpasrah tanpa per-ujungan; tentang mensyukuri segala pemberian Tuhan?

Seperti kata Banda Neira, “berjalan lebih jauh - menyelam lebih dalam - jelajah semua warna”

So, yang pertama yang harus diingat dalam pikiranmu adalah jangan berkecil hati saat melihat prestasi orang lain, karena kamu pun bisa juga melahirkan prestasi meski dalam bentuk yang berbeda atau dalam bidang yang nggak sama. Kamu juga punya potensi, punya bakat, punya talenta, punya kemampuan, yang pasti juga bisa kamu tunjukin ke dunia. Hanya saja, kamu perlu menemukannya. Di mana? Di dalam dirimu sendiri!

—  Hoeda Manis dalam bukunya “Jadilah Dirimu Sendiri” 2005.

Keberanian Mengambil Resiko

Apa yang membedakan kenapa satu orang bisa sukses sementara yang lain tidak, bisa dipengaruhi oleh keberanian untuk mengambil resiko. Seseorang yang takut mengambil resiko dan terus bertahan di zona nyaman, selamanya hanya akan berada di posisi yang sama. Tidak naik dan tidak turun. Padahal dunia ini sedemikian luasnya, dan banyak hal menarik yang bisa kamu coba. Kamu takut akan gagal? Tapi bagaimana kamu tahu kamu akan gagal bila kamu terlalu takut bahkan untuk mencoba? Selagi masih muda, akrabilah kegagalan. Karena tanpa kegagalan, kamu tidak akan pernah belajar bukan?

Sumber: Hipwee.com

Hujan Bulan Juni


Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)

Pelajaran dari Secangkir Kopi



Alkisah, sebuah liburan panjang diisi oleh sekumpulan sahabat untuk melakukan reuni. Sudah dua puluh tahun lebih mereka berpisah dan baru tahun itu mereka bisa berkumpul. Untuk itu, mereka sepakat untuk menemui gurunya ketika bersekolah dulu. Mereka hendak berterima kasih, bahwa dengan ajaran dari sang guru, mereka kini telah sukses dengan bidangnya masing-masing.

Maka, di sebuah sore yang hangat, mereka pun datang bersama-sama mengunjungi sang guru. Mereka saling bercanda, mengenang masa kenakalan ketika remaja. Kemudian satu sama lain mulai berkisah tentang perjuangan hidup yang mereka lalui. Ada yang sudah jadi bos besar di perusahaan multinasional. Ada pula yang menjadi pengusaha sukses di bidang transportasi. Ada pula yang mengaku sudah melanglang buana ke hampir semua benua untuk memenuhi impiannya.

Melihat percakapan seputar kesuksesan yang sudah hampir melampaui batas, sang guru pun meminta izin untuk ke belakang rumah. Rupanya, ia mengambil beberapa cangkir kopi dan satu teko berisi kopi panas yang siap diseduh. Uniknya, cangkir yang diberikan terdiri dari beragam bentuk dan terdiri pula dari beragam bahan. Ada yang dari keramik, kristal, kaca, melamin, dan ada pula yang hanya terbuat dari plastik biasa.

“Sudah, sudah.. Ngobrolnya berhenti dulu. Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,” sebut sang guru memecah keasyikan obrolan mereka.

Hampir serempak, mereka kemudian berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang paling jelek. Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.

“Mari, silakan diminum,” ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang paling jelek. “Bagaimana rasanya? Nikmat kan? Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.”

“Wah, enak sekali Pak.. Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,” timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain.

“Nah, kopinya enak ya? Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?” tanya sang guru.

Murid-murid itu pun saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya, apa maksud gurunya bertanya seperti itu. Maka sang guru pun kembali meneruskan ucapannya. “Tak salah memang untuk memilih apa saja yang terbaik. Malahan, itu sangat manusiawi. Tapi masalahnya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Akibatnya, pikiran kalian terfokus pada cangkir. Padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkir, melainkan kopinya. Dan, kalian sendiri mengaku bahwa kopi ini adalah kopi terenak. Jadi, tolong pikirkan baik-baik. Hidup kita seperti  kopi dalam cangkir tersebut. Sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kalian miliki.”

Sang guru pun kembali meneruskan wejangannya. “Karena itu, jangan pernah biarkan cangkir memengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, sebab kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus, dan pekerjaan mapan yang kalian banggakan tadi merupakan jaminan kebahagiaan. Namun sejatinya, kualitas hidup kita ditentukan oleh ‘apa yang ada di dalam’ bukan ‘apa yang kelihatan dari luar’. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan rasa bahagia dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Jadi, kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.”

Semua murid itu pun tertunduk malu. Mereka merasakan inilah reuni yang membuat mereka kembali “membumi”. Mereka pun berjanji, akan menjadikan pembelajaran cangkir kopi tersebut untuk menjadikan sukses yang diraih memberi kemanfaatkan kepada lebih banyak orang, dan bukannya menjebak mereka dalam kesombongan.

Sahabat Luar Biasa...,

Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, keterkenalan, adalah sebuah predikat yang disandang. Tak salah jika kita mengejarnya. Tak salah pula bila kita ingin memilikinya. Namun, semua itu tak akan kita miliki selamanya.

Semua hanya akan langgeng jika kita sebagai subjek alias pemilik sejati kekayaan yang sebenarnya memiliki kualitas dalam diri yang bersih, bernilai, bermartabat, dan penuh kebersahajaan.

Ibarat pepatah, manusia mati meninggalkan nama, maka nama seperti apa yang akan dikenang orang, itulah cerminan sejati apa yang sudah kita berikan pada sekeliling kita selama ini. “Nama” itulah “isi kopi” sesungguhnya yang harus kita jaga, rawat, dan sekaligus kita bagi untuk mendatangkan kemanfaatan pada lebih banyak orang.

Mari, kita jadikan “isi” dalam diri kita sebagai cerminan positif yang bisa selalu kita hadirkan untuk mendatangkan keberkahan, kebahagiaan, dan kesuksesan sejati.

Sumber: http://www.andriewongso.com/pelajaran-dari-secangkir-kopi/

Surat Terbuka Untuk Ibu, Dari Anakmu yang Sulit Berucap Rindu



Bu, anakmu ini jawara soal menahan gengsi dan rindu. Dalam pertanyaan "apa kabar? Atau "hai bu" terselip rinduku ke ibu.
 
Mungkin sempat terbesit di benak ibu mengapa tak pernah mendengar kata rindu dariku. Atau bahkan sekedar ungkapan sayang.

Entah mengapa ucapan manis itu sungguh berat untuk dikatakan. Pada akhirnya hanya pernyataan ingin pulang yang mewakili perasaan kangen itu. Terkadang sekadar pertanyaan sehatkah ibu juga sudah menjadi kalimat pengganti kata rindu.

Berbeda dengan teman, dimana kata kangen itu dapat dengan mudah terucap tanpa beban.
Terkadang akupun iri melihat mereka yang dengan lepasnya memeluk ibunya. Tak segan bilang sayang dan dengan romantisnya memberi bunga.

Hubunganku denganmu mungkin tak sehangat itu ya bu? Tapi, kehangatan itu menjelma dalam bentuk lain. Kehangatan terasa ketika ibu begitu mengkhawatirkan kesehatanku, dan mengingatkanku yang kerap melewatkan waktu sarapan.

Mungkin kalau dipikir-pikir ini terdengar lucu ya bu. Dulu saat kita dekat, kita sering berdebat.

Yaa, itu karena kita berdua punya pandangan yang berbeda tentang masa depan.
Aku yang ingin melepas lajang setelah kesuksesan di tangan, tentu bertentangan dengan ibu yang dengan tulus ikhlas mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Mengorbankan mimpimu,menepikan egomu, yang semata atas nama profesi paling mulia, yakni menjadi ibu rumah tangga.

Kelak, jika impian itu sudah terpenuhi, aku ingin seperti ibu.
Bu, bisa jadi alasan mengapa aku sulit berucap rindu, semata karena aku ingin membahagiakan ibu bukan dengan sekedar ucapan.

Aku ingin membahagiakanmu dengan tindakan. Meski ucapan rindu juga diperlukan sebagai bukti sayang. Aku sadar bahwa agenda untuk membahagiakanmu selalu kalah dengan segudang impian yang sudah kurencanakan.

Bu, meski ucapan sayang dan rindu itu sulit untuk ku ucapkan, setidaknya mendoakanmu menjadi agenda wajibku selepas shalat.

Hanya doa yang mampu kubingkiskan untukmu. Semoga ibu sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan-Nya.. aamiin 

- Juniarwinalia

Ilmu icip-icip


Ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan di temukannya internet, seperti slogan salah satu iklan provider telekomunikasi, "Inovasi + Internet = Sukses".
hahaha, tapi bukan ini yang saya maksud. 

masuk ke topik pembahasan.
Yang ingin saya tulis kali adalah tentang hakikat menuntut ilmu yang baik dan benar. buat mereka yang benar benar mengetahui arti pentingnya ilmu pengetahuan, mereka selalu merasa waktu 24 jam itu belumlah cukup, they need more. mereka terus berlari untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang tersebar dan harus disatukan. sehingga banyak orang yang menganut ilmu icip icip. ilmu ini dianut supaya mereka bisa mengetahui ilmunya tanpa menguasainya dengan baik.

Yang ingin saya sampaikan adalah, metode ilmu icip icip ini sangat berbahaya jika tidak di ikuti dengan landasan atau pondasi yang kuat. karena mereka hanya ikut-ikutan, belajar tanpa visi dan misi yang jelas, apa yang banyak orang pelajari, yang itu yang mereka pelajari. apa yang menjadi tren yang itu yang mereka ikuti.

Menuntut ilmu kalau dianalogikan dalam dunia masak memasak diusahakan bisa menjawab pertanyaan berikut.
Untuk apa kamu memasak?
Apa resepnya?
dan untuk siapa makanan itu akan engkau sajikan?

Yuk, belajar dengan baik dan bijak, ketahui dasarnya dan ikuti prosedurnya. semoga bermanfaat.

Sejatinya, adakah yang mau mendengar alasan?


May be this is just a simple inscription from my self. In your daily life, I sure sometimes you make some mistake and you want to explain to your friend about this one. just remember this quote:

"People who really your friends dont need your reason (believe in you). and however you explain, people who not your friends will not believe your reason"